Gadis cantik berambut lurus sepunggung itu keluar menuju ke parkiran sepeda motor di lantai dasar. Fiuuh...leganya setelah bisa berkonsultasi dengan Prof Wandi. Rasanya beban pikiran yang menumpuk bisa terbang dan menghilang seketika.
Hmm.. meskipun revisian skripsi cukup banyak dan waktunya di rumah bisa tersita karena penelitiannya tapi Saskia merasa lega bisa berkonsultasi dengan dosennya siang ini.
Dan sekarang waktunya untuk melesat meninggalkan kampus menuju ke rumah eyang.
Ibu sudah menunggunya disana untuk membantu eyang putrinya mengadakan selamatan.
Bakalan ketemu dengan sodara-sodara lagi nih..senangnya...gumamnya dalam hati.
Hari itu memang adalah hari untuk mengenang mendiang eyang kakung di 1000 harinya. Cucu – cucu eyang, menantu, anak, serta saudara datang untuk membantu melakukan selamatan yang dilakukan dengan membuat masakan sendiri. Kemudian masakan itu diberikan kepada tetangga di sebelah rumah.
Tradisi ini adalah tradisi keluarga Saskia yang keturunan Jawa dan beragama Islam untuk mengenang dan mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
Tradisi ini dilakukan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal selama 7 hari setelah kematiannya, di 100 harinya, dan 1000 harinya meninggalnya orang tersebut.
Setelah semua makanan yang sudah jadi diantarkan ke tetangga, para keluarga Saskia berkumpul dan melakukan shalat berjamaah. Ada eyang putri, ibunya, tante, om, pak dhe, bu dhe, kemenakan dan saudara jauhnya.
Saskia ikut dalam shalat itu.
Menurutnya itu merupakan salah satu ajang bertemu keluarga besarnya yang jarang sekali terjadi karena pekerjaan masing-masing.
Waktu yang tepat untuk silaturahim seperti ini malah ada pada saat-saat yang tidak enak seperti ini. Saskia telah melipat mukenanya dan memasukkan ke dalam tas nya. Seketika itu Ibunya memanggil untuk mengajaknya berpamitan pulang. Padahal ia masih ingin lebih lama berada disana.
Ia pun mengambil tas dan berpamitan kepada eyangnya.
Dan salah satu kebiasaan eyangnya di saat semua cucu-cucunya berpamitan pulang adalah memberi wejangan (nasihat).
“kalau kuliah yang bener..biar uang yang Ibu mu keluarkan untuk belajarmu bisa bermanfaat, jangan boros, beli aja barang seperlunya kalau tidak perlu ya tidak usah.”
Wejangan khas orang tua yang ga pengen cucunya menyia-nyiakan harta orang tuanya. Mulai dari masalah kuliah, masalah hemat menghemat, sampai orang tua.
“Patuhi semua nasihat ibu bapakmu, jangan membantah, jangan marah kalau diingatkan. doakan selalu mereka supaya hidupmu selamat dunia akhirat”
Saskia pun hanya bisa manggut-manggut dengar wejangan dari eyangnya. Padahal sudah berkali-kali eyangnya berkata demikian.
Sudah diluar kepala mungkin buat Saskia.. dan bagian yang paling akhir yang sangat diingat adalah ini.
“jangan lupa berdoa juga supaya diberi jodoh yang baik, Sas... Baik agamanya yang penting karena ia harus menjadi imam yang baik untuk keluargamu....
dan juga... orang yang bisa mengertimu di saat orang-orang di sekitarmu membencimu. Orang yang bisa melindungimu di saat orang-orang di sekitarmu menyakitimu.
Orang yang bisa mempercayaimu di saat orang-orang di sekitarmu mencurigaimu.
Orang yang bisa mengingatkanmu disaat kau mulai lupa diri.
Orang yang bisa meredakan amarahmu ketika orang-orang di sekitarmu membuatmu marah. Orang yang bisa menemanimu, mengusap airmatamu, memegang erat pundakmu, merangkulmu, memberikan ucapan “jangan menyerah” karena kita bersama dan kita bisa melewati ini....
Dan orang yang baik, akan mendapatkan yang baik pula. Jadilah yang baik dulu dan nanti kau akan mendapat yang baik...”
hmm....ting....kalimat yang terakhir adalah kalimat yang paling terngiang-ngiang di telinga Saskia... kita tidak bisa mengharapkan yang baik bila tidak memperbaiki diri sendiri dulu.. dan itu dari eyang putrinya yang meskipun usianya telah memasuki kepala 7 tapi masih kuat.
Ia mencium tangan eyang putrinya itu. bahagia rasanya bisa bertemu eyangnya hari ini. Saskia sayang sekali sama eyang, gumamnya dalam hati dan ia berpamitan pulang.
Setelah ia berpamitan dengan eyang putrinya dan anggota keluarga lain ia pulang bersama ibunya dengan menaiki motornya.
Sebenarnya ia agak lelah setelah membantu ibunya di dapur tadi. Namun ia harus tetap bertahan untuk membonceng Ibunya hingga rumah.
Dan ia pun melesat di keramaian malam kota metropolis. Lampu-lampu di sudut kota menari-nari bercahaya. Udara dingin menerpanya. Angin bersahutan menyusup di jalan yang ia lalui.
Dan tepat jam 19.00 ia telah sampai di rumahnya. Alhamdulillah dengan selamat. Tak terasa waktu 45 menit ditempuh dari rumah eyang ke rumahnya. Cukup jauh memang namun demi acara keluarga ia harus kuat.
Tiba-tiba ada bunyi dering di ponselnya. Ada tulisan Luna disana. Tanpa memasukkan motor terlebih dulu ke dalam ia pun langsung menjawab dering ponselnya. Suara Luna langsung menyahut ketika Saski menjawab ponsel itu
“Halo..Ibu aku.Cas....” kata Luna sambil sedikit terisak-isak..
“ibu kamu kenapa?” Tanya Saski terlihat gusar.
“ibu aku masuk rumah sakit Cas...jantungnya kambuh” , jawab Luna masih terisak-isak.
“ya Allah...kok bisa gimana critanya? Rumah sakit mana? ”
“rumah sakit Adinda..hiks.. aku juga ga tau kenapa....hiks. Waktu aku berangkat ke kampus tadi pagi beliau sehat-sehat aja... Tapi waktu aku pulang dadanya sesak sekali dan terasa sakit. Beliau sempat mengeluhkan dadanya dan pingsan 2 kali.... Aku panik sampai bingung mau minta bantuan siapa.” Jelas Luna yang agak mereda isaknya. ”Mas Andre pulangnya masih sorean...aku telpon ke hpnya, malah disambungkan ke mailbox...aku telpon kantornya ga diangkat...
Aku ga tau apa yang aku mau kuperbuat... akhirnya langsung aku bawa aja ke rumah sakit ini.... Tadi barusan kata dokter sudah diberi obat penghilang rasa nyeri jadi dadanya tidak sakit lagi.”jelas Luna yang mulai mereda isaknya
“ya udah, kalau gitu kamu tenang dulu aja Un.. kamu sama siapa disana? Apa perlu aku temenin?”
“ndak usah..tadinya aku sendirian. Aku telpon kamu buat nemenin aku disini tapi ga kamu angkat. Mungkin kmu sibuk yah. Jadinya aku minta tolong Fendi buat datang ke RS nemenin aku.”
“Fendi sepupumu?”
“iya...”
“maaf tadi aku lagi bantu-bantu ibu Un.. kalau gitu kamu tenang dulu aja. aku yakin dokter sudah memberikan perawatan yang terbaik buat ibu kamu. Sebentar lagi ibu kamu akan sembuh. Jadi kmu jangan sedih ya?” jelas Saskia berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.
“tapi besok kalau ibu belum sehat betul aku ijin buat ga ikut mata kuliah.. aku pengen jagain ibu dulu jadi ga bisa ikut bimbingan skripsi Pak Ratno” kata Luna.
“iya..aku akan ijinkan. Pak Ratno pasti maklum Un... Ibu kamu dirawat di ruang apa kamar no.berapa?”
“Ruang Sentani kamar 14.”
“besok sesudah aku kuliah aku akan jenguk ibu kamu..Tenang ya Un?”
“iya...Cas...aku tenang sekarang.. setelah ini mas Andre dateng buat nemenin aku disini...jadi Fendy bisa pulang..”
Saat itu pula, setelah mengucap salam Luna menutup telponnya. Meskipun Saskia bisa memberikan nasihat untuk tetap tenang padanya namun ada terbersit perasaan khawatir terhadap Luna dan ibunya. Semoga hanya perasaannya saja.
Ia pun masuk ke dalam rumah dan mengunci gerbang depan rumahnya rapat-rapat....ibunya sudah masuk ke dalam rumah dari tadi saat Saski masih di atas sepeda motornya..