Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

The Beautiful Pathway


Blog EntryApr 27, '11 3:16 AM
for everyone
tak lelah menunggumu semalam 

menanti kabar sang rembulan akan kembali menyinarkan terangnya

menantimu yang tlah memadu rindu

menantimu bermanja yang tak terpungkiri

menantimu memuja sang rembulan

tak lelah piluh ku mendoamu

menanti begitu sabar elok tawamu malam itu

tak lelah aku bersabar menunggumu kekasih

walau raga telah letih 

jiwa rapuh ini tetap ada 

jiwa rapuh ini tetap bersinar

jiwa rapuh ini tetap gemilau

sulit kupungkiri cemburuku ini 

sulit kutepis khawatirku ini 

mencarimu menepis semua rasaku

kuhapus dalam dalam benciku dan cemburuku

sayang...

mungkin ini khawatirku sesaat 

semoga aku cepat menepisnya

Blog EntryFeb 26, '11 11:48 PM
for everyone

Jam weker Saskia berdering menunjukkan pukul lima kurang seperempat. Ayam di sebelah rumahnya sudah berkokok dari tadi. Meskipun langit masih gelap tapi saatnya bangun pagi itu juga.

 

Aduuuh...masih ngantuk. Badan masih capek pula. Kenapa sehari cuma ada 24 jam aja. Kenapa nggak 48 jam atau 96 jam atau 192 jam atau unlimited sekalian aja kayak pulsa internet. Kalo gitu kan aku bisa tidur lebih dari 5 jam sehari. Gumamnya dalam hati.


Ah itu hanya keluhan nakalnya karena ia belum terbiasa dengan rutinitasnya begadang.

 

Selamatan di rumah eyang kemarin cukup menguras tenaga. Ditambah lagi perjalanannya dari rumah eyangnya ke rumahnya cukup jauh.

 

Setelah sampai di rumah Saskia tidak langsung istirahat di kamar tapi ia mengerjakan revisian skripsinya sampai malam. Ia tidur jam 2 malam. Itupun masih belum bisa tidur karena memikirkan keadaan ibunya Luna yang ternbaring di RS.

 

Alhasil malam itu dia begadang dan tidur hanya 3 jam kurang.

 

Dengan perlahan ia pun membuka selimutnya, bangun, dan mengambil air wudhu untuk kewajibannya ibadah pagi itu. Dibuang jauh-jauh pikirannya tentang waktu tadi dan menyemangati diri untuk bangun dan bersiap berangkat kuliah.

 

Saskia tinggal di rumah itu hanya dengan ibunya saja. Ayahnya yang mantan seorang PNS di Dinas Pariwisata meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Ayahnya terkena hipertensi (tekanan darah tinggi) dan hiperkolesterol (kadar kolesterol tinggi) juga kebiasa untuk merokok. Dalam sehari bisa menghabiskan 6-7 bungkus rokok. Sebenarnya ibunya sudah mengingatkan ayahnya untuk berhenti merokok mulai dari Saskia lahir. Namun ayahnya masih terus merokok tidak berhenti selama bertahun-tahun hingga Saskia remaja. Ini yang memperburuk hipertensi dan hiperkolesterol ayahnya. Hidupnya pun terhenti ketika Saskia berusia 15 tahun.

 

Sebagai anak tunggal ia jadi harapan satu-satunya ibunya. Ibunya sangat menyayangi Saskia. Saskia pun sangat menyayangi Ibunya juga. Kemana-mana ibunya pergi ia akan berusaha untuk menemani ibunya. Apa yang ibunya pinta sebisa mungkin tidak pernah ditolaknya. Ia tahu bahwa hidup ini sementara, tidak ada yang bisa menemani dia di dunia selain ibunya. Ibu satu-satunya permata hatinya, penyemangat dirinya, dan  Hidupnya yang masih terus tersambung hingga usianya 22 tahun ini karena kerja keras ibunya menjadi PNS dan uang ayahnya yang mantan PNS juga.

 

“Saski..makan dulu sebelum berangkat. Ini Ibu sudah siapkan makanannya.”

 

“Iya Bu..Saski nggak lupa kok buat sarapan”

 

......................................................................................................................................................

Setelah keluar dari kelasnya Saskia langsung menuju parkiran dan pergi menjenguk ibu Luna.

Sebelum ke RS Saskia mampir sebentar di toko buah dekat kampusnya untuk Ibu Luna. Menurut cerita Luna saat di teleponnya barusan ibu Luna sakit jantung dan diabetes. Ia berencana untuk membelikan buah mengkudu untuk ibu Luna. Dari beberapa literatur yang pernah dia baca buah ini bisa merontokkan sel-sel mati di jaringan tubuh, termasuk di pembuluh darah. Kemudian sel yang mati tadi bisa diganti dengan sel-sel baru.

 

Sepeda motornya menerjang jalan yang cukup ramai di siang yang terik itu. Panas sekali.

 

Ruang Sentani kamar nomor 14. diketuknya ruangan itu.

Tok..tok..tok..kriiekk..

“Pelan..pelan..ibu baru saja tidur...” suruh Luna pada dirinya. Saskia mengangguk dan berjalan pelan menuju ke Luna. Bungkusan buah mengkudu yang dibelinya diletakkannya di meja.

 

“Bagaimana kabar ibumu? Apa semakin baik? ”tanya Luna

 

“Ibu barusan selesai makan siang..baru aja tertidur karena obat dokter. Ibu masih sering merasa dadanya sakit dan sesak. Kata dokter kadar gula darahnya tinggi dan kadar LDL nya tinggi juga.”

 

“Ini ada sari buah mengkudu buat ibu. Ini baik untuk penyakit ibu.” Luna melirik ke bungkusan di meja dan mengangguk tersenyum. “Tapi cara buatnya gimana?”

 

“Emm.., tolong buah mengkudunya kamu kupas dan kamu blender. Sarinya kamu ambil tapi ampasnya kamu buang. Sarinya bisa kamu mix dengan madu dan sedikit jahe ya. Ini supaya baunya nggak menyengat dan rasanya nggak pahit. Trus kamu kasih ke ibu. Ini baik buat Ibu kamu yang kolesterolnya tinggi dan diabetes melitus.” pesan Saskia.

 

“mm..iya Cas tadi dokter bilang sama aku supaya Ibu diberi buah mengkudu..Cuma saja  sayangnya aku belum sempat beli karena mas Andre baru bisa belikan setelah pulang kantor nanti malam..untung ada kamu.”kata Luna.

 

“hehe..iya sama-sama. Memang kenapa ibu kamu bisa gini?” Saskia mengambil tempat duduk dan duduk di sebelah Luna. Di depannya adalah ibu Luna.

 

“Sebenarnya ibu makannya agak ngga terkontrol. Beliau tiap hari makan 5 kali. Setiap kali makan yang dimakan daging sapi atau daging ayam. Beliau tidak terlalu suka makan sayur. Itu yang menyebabkan LDL ibu tinggi. Ibu juga sudah lama tidak ikut senam sama ibu-ibu di perumahan.”

 

“Oh gitu..kenapa berhenti?”

 

“ibu malas. Karena capek katanya.”

 

“ooh...begitu..ya mulai sekarang kamu coba kontrol makan nya ibu. Jangan terlalu banyak makan makanan yang manis dan berlemak. Ajak ibumu aktif untuk ikut olahraga lagi. Kalau bisa kamu temani ya kamu temani dia.”

 

“iya..Cas...aku juga udah berniat gitu..meskipun kadang ibu tidak menghiraukan tapi aku akan terus berusaha...hehe..oh ya, kamu dapat dari mana resep untuk jus mengkudunya?” tanya Luna.

 

“Kebetulan ayahku dulu sebelum meninggal juga pernah dibuatkan oleh ibuku minuman ini jadi tadi pagi waktu aku tanya ibu bagaimana cara membuatnya. Eh ternyata Ibu masih ingat. Langsung aku belikan setelah pulang ngampus tadi”.

 

Luna tersenyum melihat sahabatnya itu begitu peduli padanya.

 

”Tapi sayangnya.... nyawa ayah tidak sempat tertolong karena penyakitnya sudah parah.” Saskia tiba-tiba muram. “Ibu juga baru diberitahu oleh dokter bahwa buah ini bisa membantu menyembuhkan orang yang kolesterolnya tinggi seperti ayah waktu itu.  Ibu tidak tahu sebelumnya. Apalagi jantung ayah juga rusak parah karena ayah merokok berbungkus-bungkus tiap harinya. Kalau saja ayah mau mendengar perkataan Ibu untuk berhenti mero.....”

 

“Sssstt..kok jadi sedih sih? jangan ngomong gitu ah. Ayah kamu pasti sedih kalau kamu menyesali kepergiannya.”.Luna buru-buru mengalihkan perhatian Saskia agar tidak terlalu memikirkan ayahnya yang telah tiada.

 

“iya. Hehe.. maaf ya Un. Aku jadi keinget ayah waktu liat ibumu. Ya udah.. sekarang kamu harus jaga ibu kamu ya Un. Aku tahu ibu kamu butuh kamu. Kamu pasti bisa merawat beliau dengan baik.”

 

“Iya..makasih..”

 

“oh ya...gimana kabar Rizal? Belum ketemu lagi? Hehehe ” jawab Luna sambil keduanya alisnya naik turun tanda menggoda.

 

Saskia mendadak tersipu malu. Setiap kali mendengar nama itu ia selalu tersenyum. Rizal.... nama yang sangat lekat di benaknya... sosok yang dikenalnya waktu kecil tapi belum pernah ia temui setelah lulus sekolah dasar....

 

“hem?! Belum... belum ketemu..” Saskia menjawab. Ada hempasan nafas disana dan nada suara yang mendadak mengecil di bagian akhirnya. Pertanda Saskia kecewa dan sedih.

 

Luna semakin menggoda ... “Ke rumahnya aja lagi... siapa tahu dia nggak jaga di RS. Masa tiap hari jaga? Kan nggak mungkin...”

 

“mm.......mm......”

 

“mm apa sih? Malu?” tanya Luna.

 

“mmm...iya...”jawab Saskia.

 

“hehe.. iya juga sih.. kemarin kan kamu udah kesana...apalagi kamu perempuan...wajar kalo kmu rasa sungkan, aneh juga kalau perempuan yang maen ke rumah laki-laki...hehe” Luna selalu bisa mengerti dirinya. Seperti ini sahabat yang diinginkan Saskia.

Sore itu ia dan Luna menemani ibu Luna di RS. Cinta Saskia kepada sahabatnya itu tak terhenti di kala sahabatnya senang maupun sedih. Seperti saat ini.

 

Saskia berpamitan ulang karena ia harus menjemput ibunya di kantor. Semenjak ayahnya meninggal ia yang menjemput ibunya di kantor.

 

Di saat perjalanan di lorong rumah sakit ia masih berpikir bahwa hidup itu begitu singkat. Apa yang kita lakukan saat ini adalah salah satu proses untuk menuju ke proses selanjutnya. Apa yang kita lakukan di dunia adalah penentuan untuk mendapatkan kehidupan yang baik atau tidak baik untuk kehidupan selanjutnya di akhirat.

 

Saskia sempat melihat ada perawat dan petugas rumah sakit yang melewatinya sambil membawa keranda yang berisi jasad yang sudah tak bernyawa dan diselimuti dengan kain putih. Di belakangnya ada 3 orang yang membuntuti dan sedang menangis terisak-isak. Mereka adalah seorang bapak dan dua anaknya remaja laki dan perempuan. Mungkin yang dibawa di dalam keranda tadi ibu mereka yang telah tiada.

 

Ya Tuhan...begitu singkatnya hidup ini...betapa Maha Besarnya Engkau...

 

sambil berjalan menuju ke parkiran motor ia mengambil kunci sepeda motornya di dalam sakunya. Tali kuncinya sangat panjang hingga STNK yang ada di dalam sakunya ikut ketarik dan terjatuh. STNK itu jatuh ke lantai. Tapi Saskia tak menyadarinya. Ia pun melenggang tanpa sadar menuju ke parkiran rumah sakit.

 

STNK itu tergeletak disana.

 

Rumah sakit terlihat lebih sepi. Hanya dokter dan perawat yang jaga malam mulai berdatangan. Udara masih sangat sejuk menyelundup ke lorong-lorong rumah sakit. Langit mendung dan lampu-lampu di rumah sakit dinyalakan. 


Blog EntryFeb 1, '11 11:16 AM
for everyone

Gadis cantik berambut lurus sepunggung itu keluar menuju ke parkiran sepeda motor di lantai dasar. Fiuuh...leganya setelah bisa berkonsultasi dengan Prof Wandi. Rasanya beban pikiran yang menumpuk bisa terbang dan menghilang seketika.


Hmm.. meskipun revisian skripsi cukup banyak dan waktunya di rumah bisa tersita karena penelitiannya tapi Saskia merasa lega bisa berkonsultasi dengan dosennya siang ini.

 

Dan sekarang waktunya untuk melesat meninggalkan kampus menuju ke rumah eyang.

Ibu sudah menunggunya disana untuk membantu eyang putrinya mengadakan selamatan.

 

Bakalan ketemu dengan sodara-sodara lagi nih..senangnya...gumamnya dalam hati.

 

Hari itu memang adalah hari untuk mengenang mendiang eyang kakung di 1000 harinya. Cucu – cucu eyang, menantu, anak, serta saudara datang untuk membantu melakukan selamatan yang dilakukan dengan membuat masakan sendiri. Kemudian masakan itu diberikan kepada tetangga di sebelah rumah.

 

Tradisi ini adalah tradisi keluarga Saskia yang keturunan Jawa dan beragama Islam untuk mengenang dan mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

 

Tradisi ini dilakukan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal selama  7 hari setelah kematiannya, di 100 harinya, dan 1000 harinya meninggalnya orang tersebut. 

 

Setelah semua makanan yang sudah jadi diantarkan ke tetangga, para keluarga Saskia berkumpul dan melakukan shalat berjamaah. Ada eyang putri, ibunya, tante, om, pak dhe, bu dhe, kemenakan dan saudara jauhnya.

 

Saskia ikut dalam shalat itu.

Menurutnya itu merupakan salah satu ajang bertemu keluarga besarnya yang jarang sekali terjadi karena pekerjaan masing-masing.

 

Waktu yang tepat untuk silaturahim seperti ini malah ada pada saat-saat yang tidak enak seperti ini. Saskia telah melipat mukenanya dan memasukkan ke dalam tas nya. Seketika itu Ibunya memanggil untuk mengajaknya berpamitan pulang. Padahal ia masih ingin lebih lama berada disana.

Ia pun mengambil tas dan berpamitan kepada eyangnya.

 

Dan salah satu kebiasaan eyangnya di saat semua cucu-cucunya berpamitan pulang adalah memberi wejangan (nasihat).

 

“kalau kuliah yang bener..biar uang yang Ibu mu keluarkan untuk belajarmu bisa bermanfaat, jangan boros, beli aja barang seperlunya kalau tidak perlu ya tidak usah.”

 

Wejangan khas orang tua yang ga pengen cucunya menyia-nyiakan harta orang tuanya. Mulai dari masalah kuliah, masalah hemat menghemat, sampai orang tua.

 

“Patuhi semua nasihat ibu bapakmu, jangan membantah, jangan marah kalau diingatkan. doakan selalu mereka supaya hidupmu selamat dunia akhirat”

 

Saskia pun hanya bisa manggut-manggut dengar wejangan dari eyangnya. Padahal sudah berkali-kali eyangnya berkata demikian.

Sudah diluar kepala mungkin buat Saskia.. dan bagian yang paling akhir yang sangat diingat adalah ini.

 

“jangan lupa berdoa juga supaya diberi jodoh yang baik, Sas... Baik agamanya yang penting karena ia harus menjadi imam yang baik untuk keluargamu....

dan juga... orang yang bisa mengertimu di saat orang-orang di sekitarmu membencimu. Orang yang bisa melindungimu di saat orang-orang di sekitarmu menyakitimu.

Orang yang bisa mempercayaimu di saat orang-orang di sekitarmu mencurigaimu.

Orang yang bisa mengingatkanmu disaat kau mulai lupa diri.

Orang yang bisa meredakan amarahmu ketika orang-orang di sekitarmu membuatmu marah. Orang yang bisa menemanimu, mengusap airmatamu, memegang erat pundakmu,  merangkulmu, memberikan ucapan “jangan menyerah” karena kita bersama dan kita bisa melewati ini....

Dan orang yang baik, akan mendapatkan yang baik pula. Jadilah yang baik dulu dan nanti kau akan mendapat yang baik...”

 

hmm....ting....kalimat yang terakhir adalah kalimat yang paling terngiang-ngiang di telinga Saskia... kita tidak bisa mengharapkan yang baik bila tidak memperbaiki diri sendiri dulu.. dan itu dari eyang putrinya yang meskipun usianya telah memasuki kepala 7 tapi masih kuat.

 

Ia mencium tangan eyang putrinya itu. bahagia rasanya bisa bertemu eyangnya hari ini. Saskia sayang sekali sama eyang, gumamnya dalam hati dan ia berpamitan pulang.

 

Setelah ia berpamitan dengan eyang putrinya dan anggota keluarga lain ia pulang bersama ibunya dengan menaiki motornya.

 

Sebenarnya ia agak lelah setelah membantu ibunya di dapur tadi. Namun ia harus tetap bertahan untuk membonceng Ibunya hingga rumah.

 

Dan ia pun melesat di keramaian malam kota metropolis. Lampu-lampu di sudut kota menari-nari bercahaya. Udara dingin menerpanya. Angin bersahutan menyusup di jalan yang ia lalui.

 

Dan tepat jam 19.00 ia telah sampai di rumahnya. Alhamdulillah dengan selamat. Tak terasa waktu 45 menit ditempuh dari rumah eyang ke rumahnya. Cukup jauh memang namun demi acara keluarga ia harus kuat.

 

Tiba-tiba ada bunyi dering di ponselnya. Ada tulisan Luna disana. Tanpa memasukkan motor terlebih dulu ke dalam ia pun langsung menjawab dering ponselnya. Suara Luna langsung menyahut ketika Saski menjawab ponsel itu

 

“Halo..Ibu aku.Cas....” kata Luna sambil sedikit terisak-isak..

 

“ibu kamu kenapa?” Tanya Saski terlihat gusar.

 

“ibu aku masuk rumah sakit Cas...jantungnya kambuh” , jawab Luna masih terisak-isak.

 

“ya Allah...kok bisa gimana critanya? Rumah sakit mana? ”

 

“rumah sakit Adinda..hiks.. aku juga ga tau kenapa....hiks. Waktu aku berangkat ke kampus tadi pagi beliau sehat-sehat aja... Tapi waktu aku pulang dadanya sesak sekali dan terasa sakit. Beliau sempat mengeluhkan dadanya dan pingsan 2 kali.... Aku panik sampai bingung mau minta bantuan siapa.” Jelas Luna yang agak mereda isaknya. ”Mas Andre pulangnya masih sorean...aku telpon ke hpnya, malah disambungkan ke mailbox...aku telpon kantornya ga diangkat...

Aku ga tau apa yang aku mau kuperbuat... akhirnya langsung aku bawa aja ke rumah sakit ini.... Tadi barusan kata dokter sudah diberi obat penghilang rasa nyeri jadi dadanya tidak sakit lagi.”jelas Luna yang mulai mereda isaknya

 

“ya udah, kalau gitu kamu tenang dulu aja Un.. kamu sama siapa disana? Apa perlu aku temenin?” 

 

“ndak usah..tadinya aku sendirian. Aku telpon kamu buat nemenin aku disini tapi ga kamu angkat. Mungkin kmu sibuk yah. Jadinya aku minta tolong Fendi buat datang ke RS nemenin aku.”

 

“Fendi sepupumu?”

 

“iya...”

 

“maaf tadi aku lagi bantu-bantu ibu Un.. kalau gitu kamu tenang dulu aja. aku yakin dokter sudah memberikan perawatan yang terbaik buat ibu kamu. Sebentar lagi ibu kamu akan sembuh. Jadi kmu jangan sedih ya?” jelas Saskia berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.

 

“tapi besok kalau ibu belum sehat betul aku ijin buat ga ikut mata kuliah.. aku pengen jagain ibu dulu jadi ga bisa ikut bimbingan skripsi Pak Ratno” kata Luna.

 

“iya..aku akan ijinkan. Pak Ratno pasti maklum Un... Ibu kamu dirawat di ruang apa kamar no.berapa?”

 

“Ruang Sentani kamar 14.”

 

“besok sesudah aku kuliah aku akan jenguk ibu kamu..Tenang ya Un?”

 

“iya...Cas...aku tenang sekarang.. setelah ini mas Andre dateng buat nemenin aku disini...jadi Fendy bisa pulang..”

 

Saat itu pula, setelah mengucap salam Luna menutup telponnya. Meskipun Saskia bisa memberikan nasihat untuk tetap tenang padanya namun ada terbersit perasaan khawatir terhadap Luna dan ibunya. Semoga hanya perasaannya saja.

 

Ia pun masuk ke dalam rumah dan mengunci gerbang depan rumahnya rapat-rapat....ibunya sudah masuk ke dalam rumah dari tadi saat Saski masih di atas sepeda motornya..  


Blog EntryJan 31, '11 11:44 PM
for everyone

Dengan tersipu melangkahkan kaki menuju rumah bercat putih itu. Agak waswas dan berdebar2 hatinya. Rambut panjang terurai wajah putih pipi memerah. Ia brhenti d pagar stainles dan mmencet bel sambil memberi salam takut bila penghuni di dalam rumah tidak menyahutinya..

"Assalamualaikum...." 

kemudian terdengar sahutan dari dalam, "Waalaikumsalamwrwb...ingin ketemu siapa?"perempuan paruh baya namun masih cantik menyapa..

Saskia pun menjawab,"Saya Saskia,tman sd Rizal di SD Wiguna 1 tante. Mau silaturahmi aja. Apa Rizal ada, tante?".

"Aduh, blum dateng. Dia stase di RS sekarang. Besok pagi baru pulang. Saskia agak kcewa."mm.. ya sudah tante. Bilang saja saya datang untuk silaturahmi.Nama saya Saskia"...

tante itu mengangguk dan tersenyum sambil berkata
"Iya...akan tante smpaikan. Ada lagi?"

 

Saskia menggeleng.

Ia brpamitan dengan wanita paurh baya itu.. dalam hati ia berharap bisa bertemu wanita cantik itu lagi entah dimana dan kapan...ia teringat akan ibunya di rumah.


Saskia pun meninggalkan rumah bercat putih itu. Berharap besok atau lusa atau kapan-kapan akan kembali mengunjungi rumah itu lagi.. 

Rumah Rizal.. rumah yang ia idamkan..dimana salah satu pnghuninya adalah orang yg ia tunggu dan berharap ia temui..setelah 10thn berpisah..Dialah tman Saskia wktu kecil....

------------------------------------------------------------------------------------------
Saskia menapaki anak tangga menuju ruang kelasnya di lt.2 fakultas kesehatan masyarakat..satu demi satu.. Sambil berjalan dibelakangnya muncul Luna sahabat karibnya."Cas, gimana kemarin sudah ketemu Rizal? Terus gimana sekarang mukanya? Dia kuliah dimana? Alamatnya sma kyak yg aq kasi ke kamu kan?"...

“hey..hey.. yang pengen ketemu sama Rizal kan aku, kok jadi kamu yang girang sih? kayak lagi dikejar pencuri aja kamu tanyanya...”


“haduuh.. Rizal kan temennya Abdi juga. Yah.. walaupun dia cuman temen SMP dan sudah ngga ketemu 7 tahunan. Abdi terkahir kali ketemu Rizal pas pensi di SMP itu karena se-band. Setelah itu mereka kan lulus dan sudah pisah. Aku cuman penasaran aja. cemburu ya?”


"haha.. apaan sih.. aku belum ketemu. Dia jaga di RS. Pulangnya pagi" muka Saskia menjadi sedih.

"oh gitu...yah ga jadi ketemu dong? Gimana kalau ntar siang aku temenin kamu ke rumahnya Rizal? siapa tahu hari ini dia ngga jaga di RS. Saripada kamu kesana sendirian besok? "

 

"aku sih pengen, tapi ntar siang ga bisa. Prof.Wandi minta jadwal buat konsultasi siang ini. Pulangnya disuruh ibu langsung ke rumah eyang karena ada selametan disana. Mungkin baru minggu depan atau ntah lah kapan-kapan kalau sempat. Lagipula aku juga ngga buru – buru. Yang penting aku sudah tahu dimana dia sekarang”

"oo gitu.."jawab Luna. 


"eh,by the way minggu depan ada bursa buku lho. Bukunya diskon 30%. Trus ada seminar kesehatan lagi...Gratis..Ksana yuk?"ajak Luna.

"Kalau ngga ada konsultasi skripsi, latihan paduan suara, atau acara BEM boleh aja..emg dmn?"kata Saskia.

"di FK. Dari poster yang ditempel di depan selasar pembicaranya juga dari Departemen Kesehatan dan moderatornya artis remaja. Kelihatannya bagus. " saskia mengangguk.

 

Mereka memang bersahabat sejak SMA. Luna sangat dekat dengan Saski, ia memanggil Saskia dengan sebutan “cas” karena menurutnya lebih unik.

 

“banyak yang manggil kamu sas, kalau aku panggil kamu Cas pasti kamu tahu kalau itu yang manggil cuman aku. Jadi kamu akan lebih cepat ngasih respon kalau itu datangnya dari sahabatmu sendiri”

Kadang Saskia ngga ngerti mau sahabat satu satunya ini. Tapi ia sangat sayang pada Luna. Mereka seperti melengkapi.

 

Mereka pun berlalu masuk ke kelas dimana Prof Wandi sudah datang untuk mengajar mata kuliah epidemiologi pagi itu...pagi yang indah. Pagi yang dipenuhi pikiran – pikiran tentang urusan. Kuliah, tugas, kegiatan kampus, cinta.


© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller